Meneropong Jalan Sang Pemberi Keadilan

20121115hakim agung - besar

Oleh : Fazlur Rahman AS, ditulis pada 20 November 2012

Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, itulah frase irah-irah yang selalu ada  dicantumkan dalam setiap putusan hakim di pengadilan.  Kalimat singkat namun penuh makna, yang senantiasa melandasi dan mendasari hakim dalam berbuat dan bertindak,yang  akan menuntun hakim untuk memberikan putusan dengan baik dan menjamin keadilan terjadi di masyarakat.

Akhir-akhir ini ada dua kasus yang dapat kita cermati, pertama kasus ditangkapnya seorang Hakim Pengadilan Negeri Bekasi, Puji Wijayanto, terkait kasus narkoba yang membelitnya bersama dengan seorang rekan plus 4 (empat) wanita penghibur. Kasus kedua, adalah misteri mundurnya seorang Hakim Agung, Ahmad Yamani, dengan segala kontroversi yang berkembang pengunduran dirinya dipertanyakan terkait vonis hakim yang “berubah” dalam kasus narkoba yang melibatkan pemilik pabrik ekstasi di Surabaya.

Pada kasus pertama, itu bukan hanya melanggar kode etik kehakiman, namun sudah mengindikasikan hakim terlibat dalam kejahatan narkoba yang mana adalah salah satu musuh utama Bangsa Indonesia saat ini selain Korupsi. Sedangkan dalam kasus kedua, alasan Hakim Agung tersebut mundur karena memang terlibat dalam pengubahan putusan majelis, dan ternyata malah dinyatakan bahwa pengunduran dirinya tidak diterima justru yang bersangkutan diberhentikan dengan tidak hormat. Ckckck

Dalam kajian hukum dan masyarakat, perspektif dan rasa keadilan hukum di mata masyarakat menjadi sangat penting, berhubung tujuan hukum untuk memberikan keadilan, kepastian juga kemanfaatan serta sebuah pendapat bahwa hukum ada untuk masyarakat, jadi ia harus berguna buat masyarakat. Dari kacamata ini dua kasus diatas terlihat sangat aneh dan tidak terpuji, untuk masyarakat biasa saja itu sudah merupakan kasus kriminal, apalagi jika justru dilakukan oleh para pengadil seperti hakim (bisa juga oleh polisi jaksa dan lainnya).

Sudah jelas ada yang salah dengan sistem hukum di Indonesia sehingga justru melibatkan para pengadil yang semestinya menjadi garda terakhir, ibarat seorang penjaga gawang dalam permainan sepakbola, maka institusi kehakiman dan para hakim sebagai pelaksananya bertugas menjaga hukum agar tidak dibobol dengan pelanggaran atau kejahatan serta menghukum pelakunya sampai jera serta memberikan efek takut bagi masyarakat lainnya sampai jeri.

Ada sebuah konsep mutakhir dalam ilmu hukum, dimana tidak hanya dituntut melakukan pendekatan hukum dengan cara Intelectual Quotient (IQ) atau (Emotional Quotient), namun sebuah pendekatan yang bisa melengkapi keduanya agar tercipta suatu kondisi yang seideal mungkin. Adalah Spiritual Quotient atau pendekatan rohani yang harusnya juga menjadi landasan budi karena jika manusia dituntun oleh hati nuraninya maka ia akan terbimbing, karena hati nurani seorang manusia selagi bersih adalah suci, manusia adalah makhluk rohani yang memiliki kesadaran secara universal (Universal Consciousness), tidak hanya berkoneksitas pada salah satu agama, melainkan berlaku buat seluruh manusia yang memiliki keyakinan ketuhanan dalam dirinya.

Lantas hubungannya dengan profesi kehakiman adalah, hakikat hakim sebagai pengadil dan “perwakilan” Tuhan dimuka bumi untuk memberikan keadilan bagi masyarakat. Ia juga salah satu lembaga yang mengatasnamakan Tuhan dalam setiap tindak-tanduknya. Para pengadil ini dituntut tidak hanya untuk memberikan putusan yang baik dan benar, namun juga fardhu ain dalam memberikan contoh sebagai teladan bagi lainnya, untuk itu profesi hakim adalah profesi yang mulia, bukan hanya sapaan “Yang Mulia” yang dipakai pada saat jalannya persidangan, namun juga segala tindak tanduk hidupnya. Sebab kelak, segala yang dilakukan hakim tidak hanya dipertanggungjawabkan secara horizontal kepada manusia/ masyarakat, namun juga pasti dipertanggung jawabkan secara vertikal dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu, dalam agama Islam para hakim sudah diperingatkan, bahwasanya kaki para hakim itu sebelah sudah ada disurga, namun sebelahnya lagi ada di neraka. Bukan main tujuan dan akibat seorang hakim

Akan tetapi mengapa hal yang kata berbagai pengamat hukum dianggap sebagai hanya fenomena gunung es ini dapat terjadi dan mungkin akan terus terjadi? Inilah yang disebut sebagai memahami profesi hukum hanya dengan menggunakan kemampuan intelektual, tanpa melihat kembali preposisi hakim secara profesional dan proporsional. Hukum sebenarnya telah memberikan pedoman (rule bound) bagi para hakim, dengan adanya kode etik kehakiman, serta berbagai perangkat aturan lainnya yang memberikan petunjuk bagi para hakim. Namun berkaca dari kejadian ini, harus ada upaya lainnya dalam membentuk bukan hanya aturan yang sudah ada, tapi pembuatan hukum / aturan berikutnya harus berlandaskan spiritualitas (dalam rule making). Misalnya, jelas tidak mungkin mengangkat seorang sarjana hukum fresh graduate berusia 23 tahun menjadi seorang calon hakim (cakim) dan dalam beberapa tahun saja sudah dapat bertugas memegang palu di Pengadilan Negeri. Padahal seperti diungkapkan diatas, profesi hakim tidak hanya memiliki spektrum duniawi, ia bertautan dengan banyak orang, karena itu menjadi hakim haruslah yang benar-benar memiliki kesiapan, bukan masalah usia, namun harus memiliki dan memenuhi persyaratan untuk memberi rasa adil, bijaksana, berwibawa, berbudi luhur serta jujur.

Hal diatas sebagai kunci penegakan hukum, sekali lagi hakim sebagai garda terakhir pintu keadilan, hakim diharapkan dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya, agar dapat memecah kebuntuan-kebuntuan dalam penegakan hukum selama ini (rule breaking), baik kasus-kasus narkoba, maupun kasus korupsi, kolusi ataupun nepotisme yang telah menjadi musuh utama masyarakat indonesia pada saat ini.

Categories: Sosiologi Hukum | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: